Palembang, Beritasatu.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis (15/10/2026) pagi. Kondisi udara yang memburuk membuat warga mengeluhkan gangguan pernapasan hingga mata perih saat beraktivitas di luar ruangan.
Tingkat polusi udara dilaporkan mencapai angka PM 2.5 sebesar 1.443. Angka tersebut menjadi perhatian karena PM 2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan berdampak terhadap kesehatan, terutama jika terhirup dalam konsentrasi tinggi.
Kabut Asap Kepung Palembang Bikin Jembatan Ampera Hampir Tak Terlihat
Kabut asap yang semakin tebal juga mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini menambah urgensi penanganan karhutla oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait, baik melalui pemadaman kebakaran maupun upaya perlindungan kesehatan warga.
Edo, seorang petugas kebersihan yang ditemui saat bekerja di luar ruangan, mengatakan kabut asap pada Kamis pagi terasa semakin parah. Ia mengaku kesulitan bernapas dengan nyaman ketika menjalankan pekerjaannya.
ADVERTISEMENT
“Pagi ini asap semakin tebal. Napas terasa sesak dan mata juga perih. Saya sampai harus memakai dua masker untuk mengurangi dampak asap saat bekerja,” ujar Edo.
Asap Kian Pekat, Warga Palembang Tagih Keseriusan Pemerintah
Meski telah memakai dua masker, Edo mengaku masih merasakan dampak paparan asap. Pekerjaannya sebagai petugas kebersihan mengharuskannya tetap berada di ruang terbuka meskipun kualitas udara sedang memburuk.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi kabut asap yang mengganggu kehidupan masyarakat. Menurutnya, penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius agar kualitas udara di Palembang kembali membaik dan warga dapat beraktivitas dengan lebih aman.
